Inovasi Produk Bersama IRT pada Usaha Anyaman di Desa Gundik, Slahung, Ponorogo

Product innovation with housewives in woven business in Gundik Village, Slahung, Ponorogo

  • Sedinadia Putri IAIN Ponorogo

Abstract

Kerajinan anyaman pada dasarnya memiliki potensi yang baik. Karena memiliki nilai estetika dan daya tarik kepada konsumen yang tinggi. Namun, produk yang dihasilkan pada usaha ini masih kurang berinovasi yaitu hanya tas anyaman saja. Sehingga produktivitas pada usaha ini masih kurang berjalan dengan baik. Selain itu disekitar usaha terlihat masih banyak Ibu-ibu Rumah Tangga (IRT) yang tidak memiliki kegiatan di siang hari. Adapun tujuan dalam pengabdian masyarakat ini adalah untuk mengembangkan produk kerajinan anyaman dan memberikan pendampingan bagi IRT sekitar usaha melalui inovasi produk box hantaran. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi kreatif, terutama pada usaha anyaman dan juga pemberdayaan IRT agar lebih produktif dan mampu memanfaatkan waktu luang yang ada. Pengabdian ini menggunakan metode pendekatan ABCD (Asset Based Community Development), yaitu dengan menggunakan aset desa Gundik berupa usaha kreatif (kerajinan anyaman) milik Ibu Ayu Wulandari kemudian dilakukan inovasi produk seperti box hantaran. Hasil dari pengabdian masyarakat dengan pemberdayaan dan pendampingan ekonomi dalam rangka inovasi produk kerajinan anyaman baik untuk usaha maupun IRT selama pendampingan maupun setelah pendampingan memberikan perubahan yang positif. (Indonesia)

Wicker crafts basically have good potential. Because it has a high aesthetic value and appeal to consumers. However, the products produced in this business are still less innovative, namely only woven bags. So productivity in this business is still not going well. In addition, around the business there are still many housewives (IRT) who do not have activities during the day. The purpose of this community service is to develop woven craft products and provide assistance for IRT around the business through product innovation box hantaran. This is done as an effort to empower the creative economy, especially in the webbing business and also the empowerment of IRT to be more productive and able to take advantage of existing free time. This service uses the ABCD (Asset Based Community Development) approach, namely by using mistresses village assets in the form of creative businesses (Woven Crafts) owned by Mrs. Ayu Wulandari then carried out product innovations such as box hantaran. The results of community service with empowerment and economic assistance in order to innovate woven handicraft products both for business and IRT during mentoring and after mentoring provide positive changes. (English)

Keywords: ABCD, Inovasi Produk, Pemberdayaan Ekonomi

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2021-12-31
Abstract viewed = 114 times
PDF downloaded = 190 times