ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI KECAMATAN KOBA, KABUPATEN BANGKA TENGAH
DOI:
https://doi.org/10.33019/d9rp7566Keywords:
vannamei shrimp , land suitability, carrying capacity, GIS, Central BangkaAbstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian lahan dan daya dukung perairan untuk pengembangan tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan metode skoring dan pembobotan terhadap parameter kualitas perairan, sedangkan daya dukung dihitung berdasarkan kuantitas pasokan air laut di perairan pesisir sebagai penerima limbah budidaya. Hasil kajian menunjukkan kualitas perairan pesisir Kecamatan Koba berada pada kondisi baik untuk mendukung budidaya udang vaname. Berdasarkan overlay kesesuaian lahan dengan pola ruang RTRW 2020 dan interpretasi foto drone 2020, lokasi yang direkomendasikan untuk pengembangan tambak adalah Desa Kurau, Kelurahan Padang Mulya, dan Desa Penyak. Perhitungan daya dukung menunjukkan luasan maksimum tambak yang dapat didukung pada sistem budidaya tradisional, semi-intensif, intensif, dan super-intensif berturut-turut sebesar 2.766,20 ha; 484,09 ha; 276,62 ha; dan 138,31 ha. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi perencanaan pengembangan tambak udang vaname yang berkelanjutan dan sesuai daya dukung lingkungan di wilayah pesisir Kabupaten Bangka Tengah.
Downloads
References
Alongi, D. M. (2008). Mangrove forests: Resilience, protection from tsunamis, and responses to global climate change. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 76(1), 1-13.
Bignell, J. D., & Onstad, G. D. (2003). Water pollution and the deterioration of marine environments. Water, Air, and Soil Pollution, 3(3-4), 331-343.
BPS (Badan Pusat Statistik), 2020. Provinsi Bangka Belitung Dalam Angka 2020; Katalog.
Cahyaningrum, D. C. 2017. Strategi Pengelolaan Tambak Udang Secara Berkelanjutan (Kasus di Wilayah Pesisir Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta). Tesis. Program Magister Institut Teknologi Bandung.
Castaneda G.V., M. G. F. Espericueta., R. C. V. Perez, M. C. C. Sanchez., dan F. P. Osuna. 2019. Toxicity of Ammonia, Nitrite and Nitrate to Litopenaeus vannamei Juveniles in Low-Salinity Water in Single and Ternary Exposure Experiments and Their Environmental Implications. Environmental Toxicology and Pharmacology, 70: 1-8.
FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soils Bulletin. Rome.
Iwama GK. 1991. Interactions between aquaculture and the environment. Critical Reviews in Environtmental Control. Vol 21(2): 177-216.
KEPMEN LH. Nomor 51 tahun 2004. Tentang Baku Mutu Air Laut. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Republik Indonesia.
Nuhamara, S. T. dan Kasno. 2001. Present status of crown indicators. Forest Health Monitoring to Monitor The Sustainability of Indonesian Tropical Rain Forest. Vol 1. 73—84.
Poernomo, A. (1992). Peilihan lokasi tambak udang berwawasan lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. 40 hal.
Primavera, J. H., Samson, M. S., & Caballero, G. P. (2000). Progress and problems in shrimp culture in the Philippines: the SEAFDEC perspective. Aquaculture, 191(1-3), 21-32.
Ristiyani, D. 2013. Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Perikanan Tambak di Pesisir Kendal. Geo-Image, 2(1).
Tacon, A. G., & Forster, I. (2003). Aquafeeds and the environment: policy implications. Aquaculture, 226(1-4), 181-189.
Tett, P., Gowen, R., Painting, S., Elliott, M., Forster, R., Mills, D. K., & Bresnan, E. (2007). Framework for understanding marine ecosistem health. Marine Ecology Progress Series, 332, 281-289.
Widigdo, B., dan J. Pariwono, 2003. Daya Dukung Perairan di Pantai Utara Jawa Barat untuk Budidaya Udang (Studi Kasus di Kabupaten Subang, Teluk Jakarta dan Serang), Jurnal Ilmu-ilmu Perairan danPerikanan Indonesia, 1: 10-17



